Hari Pencegahanan Bunuh Diri Sedunia
𝐇𝐚𝐫𝐢 𝐏𝐞𝐧𝐜𝐞𝐠𝐚𝐡𝐚𝐧 𝐁𝐮𝐧𝐮𝐡 𝐃𝐢𝐫𝐢 𝐒𝐞𝐝𝐮𝐧𝐢𝐚 diperingati setiap 10 September. Tujuannya untuk menciptakan kesadaran di antara orang-orang dalam mengambil tindakan dan membantu mencegah kasus bunuh diri.
Tahukah kalian bahwa angka kasus bunuh diri yang ada dikalangan kita itu sangat kecil, karna hal ini merupakan fenomena top of iceberg jadi yang terlihat itu sangat kecil namun yang tak terlihat sangat besar. Kenapa bisa begitu? Karna mengungkapkan kasus bunuh diri di Negara kita merupakan suatu hal yang tabu. Jadi misalnya seseorang meninggal dikarenakan kasus bunuh diri entah keluarga, institusi, ataupun orang orang disekitar akan berusaha menutupi.
Dalam pendekatan ilmu sosiologi yang dijelaskan oleh Durkheim cukup bertentangan dengan ilmu Kejiwaan.
𝗧𝗜𝗣𝗘 𝗕𝗨𝗡𝗨𝗛 𝗗𝗜𝗥𝗜 𝗗𝗔𝗟𝗔𝗠 𝗣𝗘𝗡𝗗𝗘𝗞𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗦𝗢𝗦𝗜𝗢𝗟𝗢𝗚𝗜
Dalam karya Durkheim yang populer 𝐿𝑒 𝑆𝑢𝑖𝑐𝑖𝑑𝑒 (1897) (dalam Upe, 2010: 99), dikemukakan dengan jelas hubungan antara integrasi sosial terhadap kecenderungan untuk melakukan bunuh diri (suicide). Durkheim melihat bunuh diri sebagai tindakan individu dilatarbelakangi oleh faktor-faktor sosial. Durkheim menolak adanya serangkaian anggapan bahwa bunuh diri disebabkan oleh penyakit kejiwaan, imitasi atau peniruan, iklim, alkoholisme, kemiskinan, dan juga adanya pengaruh ras tertentu yang memiliki kecenderungan melakukan bunuh diri. Durkheim merumuskan empat tipe bunuh diri (dalam Upe, 2010: 99), yaitu:
- 𝑬𝒈𝒐𝒊𝒔𝒕𝒊𝒄 𝒔𝒖𝒊𝒄𝒊𝒅𝒆, yaitu suatu tindakan bunuh diri karena merasa kepentingan individu lebih tinggi daripada kepentingan kesatuan sosialnya. Merupakan bunuh diri yang terjadi karena adanya integrasi sosial yang terlalu lemah. Bunuh diri egoistik terjadi manakala individuindividu yang berada di masyarakat tidak bisa berbaur dengan lingkungan setempat. Kurangnya adaptasi membuat seseorang lemah dalam solidaritas. Solidaritas sangat kurang sekali, ikatan sosial juga lemah sehingga menciptakan individu-individu yang berjalan dengan sendirinya. Tidak ada rasa kebersamaan terhadap sesama, membuat terkungkung dalam kesendirian jauh dari kolektivisme.
- 𝑨𝒍𝒕𝒓𝒖𝒊𝒔𝒎 𝒔𝒖𝒊𝒄𝒊𝒅𝒆, yaitu dengan adanya perasaan integrasi antar sesama individu yang satu dengan yang lainnya, maka menciptakan masyarakat yang memiliki integrasi yang kuat. Merupakan bunuh diri yang terjadi karena adanya integrasi sosial yang terlalu kuat. Jiwa solidaritas dari manusianya sangat tinggi, sehingga aturan-aturan yang diciptakan dalam kelompoknya akan diikuti. Seperti fenomena bom bunuh diri yang akhir-akhir ini marak terjadi. Bom bunuh diri dilakukan dari sekelompok anggota oknum yang sudah mempunyai paham radikal. Demi kepentingan kelompok maka walaupun dirinya meninggal dunia tetap dilakukan.
- 𝑨𝒏𝒐𝒎𝒊𝒆 𝒔𝒖𝒊𝒄𝒊𝒅𝒆, yaitu lebih terfokus pada keadaan moral dimana individu yang bersangkutan kehilangan cita-cita, tujuan, dan norma dalam hidupnya. Bunuh diri anomik mencerminkan seorang individu yang mengalami kebingungan moral dan kurangnya arah sosial yang berkaitan dengan pergolakan sosial dan ekonomi yang dramatis. Seorang individu tidak tahu dibidang mana mereka cocok dalam komunitas mereka (Mantiri, Erwin dan James, 2016: 260). Keadaan yang membuat bingung masyarakat menjadikan suasana masyarakat tidak harmonis. Terlebih terjadinya perubahan yang tidak semuanya masyarakat dapat menerimanya dengan baik.
- 𝑭𝒂𝒕𝒂𝒍𝒊𝒔𝒕𝒊𝒄 𝒔𝒖𝒊𝒄𝒊𝒅𝒆, yaitu terjadi ketika nilai dan norma yang berlaku di masyarakat meningkat dan terasa berlebihan. Bunuh diri fatalistik terjadi ketika seseorang terlalu diatur atau terkekang, ketika masa depan mereka diblokir tanpa belas kasihan dan keinginan diri-sendiri dihambat karena disiplin yang berlebihan. Ini adalah kebalikan dari bunuh diri anomik dan muncul dalam masyarakat terlalu menindas menyebabkan individu lebih memilih mati daripada melanjutkan hidup dalam masyarakat mereka (Mantiri, Erwin dan James, 2016: 260). Misalnya narapidana yang terlalu tertekan dengan peraturan dalam penjara dan memilih untuk bunuh diri.
Ida Rochmawati, Psikiater sekaligus penggiat 𝑠𝑢𝑖𝑐𝑖𝑑𝑒 𝑝𝑟𝑒𝑣𝑒𝑛𝑡𝑖𝑜𝑛 menjelaskan bahwa ada 3 macam bunuh diri yang harus diketahui, yakni;
- 𝘔𝘪𝘤𝘳𝘰-𝘴𝘶𝘪𝘤𝘪𝘥𝘦, bunuh diri secara pelan-pelan. Misalnya ada orang tua yang sakit sakitan namun dia tidak mau makan dan juga tidak mau minum obat.
- 𝑀𝑎𝑠𝑘𝑒𝑑-𝑠𝑢𝑖𝑐𝑖𝑑𝑒, bunuh diri dimana si pelaku tidak menunjukkan sungguh sungguh ingin mati tapi si pelaku melakukan perbuatan yang memang berujung kepada kematian. Misalnya Kebut-kebutan, Tawuran, dll.
- 𝐶𝑜𝑚𝑚𝑖𝑡𝑡𝑒𝑑-𝑠𝑢𝑖𝑐𝑖𝑑𝑒, bunuh diri yang dimana si pelaku benar-benar melukai diri sendiri.
𝐇𝐎𝐓𝐋𝐈𝐍𝐄 𝐋𝐀𝐘𝐀𝐍𝐀𝐍 𝐊𝐎𝐍𝐒𝐄𝐋𝐈𝐍𝐆 𝐏𝐄𝐍𝐂𝐄𝐆𝐀𝐇𝐀𝐍 𝐁𝐔𝐍𝐔𝐇 𝐃𝐈𝐑𝐈 𝐃𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐎𝐍𝐄𝐒𝐈𝐀
Pada tanggal 10 Oktober 2010 kementerian kesehatan meluncurkan hotline sebagai layanan konseling pencegahan bunuh diri, namun ditutup. Kepala Bagian Opini Publik Peliputan dan Produksi Komunikasi Kemenkes, Busroni menjelaskan bahwa penutupan tersebut diakibatkan kecenderungan penurunan jumlah penelpon pada tahun 2013 hingga 2014.
Jika kalian ada tendesi untuk bunuh diri, kalian bisa menghubungi nomor darurat ini. Berikut adalah hotline cegah bunuh diri yang dapat dihubungi:
- 𝐇𝐨𝐭𝐥𝐢𝐧𝐞 𝐊𝐞𝐬𝐞𝐡𝐚𝐭𝐚𝐧 𝐉𝐢𝐰𝐚 𝐊𝐞𝐦𝐞𝐧𝐤𝐞𝐬 (𝟎𝟐𝟏-𝟓𝟎𝟎-𝟒𝟓𝟒)
Selain itu, stigma masyarakat terhadap penderita depresi juga membuatnya enggan untuk bercerita. Nomor 500-454 merupakan nomor yang sengaja didaftarkan Kemenkes ke Telkom sebagai layanan konsultasi itu beberapa tahun lalu. - 𝐈𝐧𝐭𝐨 𝐓𝐡𝐞 𝐋𝐢𝐠𝐡𝐭
Kalian dapat menghubungi komunitas ini melalui email intothelight.email@gmail.com atau langsung membuka laman ‘Pendampingan’ dalam situs mereka https://intothelightid.wordpress.com/. Selain itu, kalian dapat mencari mereka lewat akun sosial media mereka di Twitter, Facebook, Instagram dengan @intolightid. - 𝐋𝐒𝐌 𝐉𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐁𝐮𝐧𝐮𝐡 𝐃𝐢𝐫𝐢 (𝟎𝟐𝟏 𝟗𝟔𝟗𝟔 𝟗𝟐𝟗𝟑)
Tujuan dibentuknya komunitas ini adalah untuk mengubah perspektif masyarakat terhadap mental illness dan meluruskan mitos serta agar masyarakat paham bahwa bunuh diri sangat terkait dengan gangguan atau penyakit jiwa. Kalian dapat menghubungi komunitas ini melalui nomor telepon (021 0696 9293) atau melalui email janganbunuhdiri@yahoo.com. - 𝐆𝐞𝐭 𝐇𝐚𝐩𝐩𝐲
Kalian dapat menghubungi komunitas ini melalui situs https://www.get-happy.org/ atau bisa juga lewat email get.happy.yuk@gmail.com. - 𝐊𝐨𝐦𝐮𝐧𝐢𝐭𝐚𝐬 𝐏𝐞𝐝𝐮𝐥𝐢 𝐒𝐤𝐢𝐳𝐨𝐟𝐫𝐞𝐧𝐢𝐚 𝐈𝐧𝐝𝐨𝐧𝐞𝐬𝐢𝐚 (𝐊𝐏𝐒𝐈)
Untuk kalian yang tertarik curhat dengan komunitas ini, kalian dapat menghubungi mereka melalui nomor 021-8514389 atau mengunjungi laman http://www.skizofrenia.org/ dan mengisi form di sana atau bisa melalui akun Facebook dan Twitter mereka di @KPSI_pusat.
Jadi teman-teman perlu diketahui tidak ada orang yang aman dari pikiran atau perilaku bunuh diri. Siapapun bisa mengalami depresi, siapapun bisa mengalami kesedihan, dan siapapun juga bisa mengalami rasa keterpurukan. Perbedaannya adalah ada orang yang mampu membantu dirinya sendiri, ada orang yg mampu mendapatkan bantuan, juga ada yang tidak. Nah tugas kita sebagai orang yang ada disekitarnya menyelematkan orang-orang yang membutuhkan bantuan kita. Karna tidak semua orang bisa menyampaikan bahwa dirinya itu butuh bantuan.
Teuntuk kalian yang saat ini berada dalam masa-masa sulit, carilah teman yang bisa kalian percaya untuk menceritakan apa yang kalian rasakan. Disarankan untuk kalian cari ahlinya seperti psikolog atau mungkin kalau sudah terdiagnosa kalian bisa bertemu psikiater terdekat di daerah kalian.
Sekian, terima kasih. Cintai diri kalian ya!
Kalian berharga!



Komentar
Posting Komentar