Fenomena Bahasa Jaksel Yang Hangat Di Kalangan Remaja Indonesia



 Siapa sih yang gak tahu dengan salah satu streotip anak Jaksel yang terkenal dengan bahasa campurnya? Tapi kamu tau ga sih sebenarnya, ada sebuah istilah dalam dunia linguistik yang menggambarkan fenomena “anak Jaksel” ini loh.

Dalam dunia linguistik atau sederhananya ilmu bahasa fenomena ini disebut sebagai code mixing, campur kode dalam Bahasa Indonesia.
Apa itu Code Mixing?


                Code mixing atau dalam Bahasa Indonesianya campur kode adalah kegiatan mencampurkan dua bahasa atau lebih dalam satu kalimat.

                   Code Mixing (campur kode/bahasa) 
Misalnya: Gue ingin ke Granny's house next week. 
 
Berdasarkan contoh ini terjadi campur kode/bahasa (code mixing) karena penutur mencampurkan kedua bahasa (code) dalam satu kalimat. Pada campur kode berarti ada bahasa yang dominan dipakai, misal di atas dominan menggunakan bahasa Inggris.

Jenis - Jenis Campur Kode (Code Mixing)
Campur kode ini dibagi menjadi dua, yaitu:
  1. Campur kode ke dalam (innercode-mixing): Campur kode yang bersumber dari bahasa asli dengan segala variasinya (formal, baku, informal, tidak baku)
  2. Campur kode ke luar (outer code-mixing): Campur kode yang berasal dari bahasa asing.

Latar Belakang Terjadinya Campur Kode (Code Mixing)
                 Latar Belakangnya ada dua, yakni 
  1. Sikap (attitudinal type), latar belakang sikap penutur.
  2. Kebahasaankebahasaan(linguistic type), latar belakang keterbatasan bahasa, sehingga ada alasan identifikasi peranan, identifikasi ragam, dan keinginan untuk menjelaskan atau menafsirkan.
Wujud Campur Kode (Code Mixing)
          Wujud campur kode bisa berupa banyak hal, yaitu
  1. Penyisipan kata, 
  2. Menyisipan frasa, 
  3. Penyisipan klausa, 
  4. Penyisipan ungkapan atau idiom, dan 
  5. Penyisipan bentuk baster (gabungan pembentukan asli dan asing). 

Sebenarnya, ada satu istilah lainnya yang hampir mirip dengan campur kode, yaitu code switching atau alih kode. Alih kode lebih merujuk pada mengganti satu bahasa ke bahasa lain dalam sebuah percakapan. Ada beberapa ahli yang mengatakan alih kode berbeda dengan campur kode dalam konteks penggunaan. Namun, cukup pusing untuk melihat perbedaannya karena perbedaannya yang tidak begitu signifikan. 

 Apa itu Code Switching?

            Alih kode (code switching) adalah mengalihkan pembicaraan dari satu bahasa ke bahasa lain.

Code Switching (Alih Kode/Bahasa) 

 Misal, anda dan teman anda berbicara dalam bahasa Indonesia. Lalu tiba-tiba teman anda yang berasal dari Amerika datang. Maka anda dan teman anda yang sebelumnya berbicara dalam bahasa Indonesia, langsung mengganti bahasa yang digunakan menjadi bahasa Inggris, agar teman anda yang baru datang tadi mengerti.

 Jenis - Jenis Alih Kode (Code Switching)

  1. Alih kode jenis antar kalimat (Intersentencial switching) yaitu jenis alih kode yang digunakan oleh penutur dari bahasa satu ke bahasa lain dalam bentuk klausa atau kalimat
  2. Alih kode jenisintrakalimat (Intrasentencial switching) yaitu jenis alih kode yang digunakan olehpenutur dari bahasa satu ke bahasa lain dalam kata atau frasa
  3. Alih kode jenis tag (tagswitching) yaitu jenis alih kode yang digunakan oleh penutur dari bahasa satu ke bahasa lain dalam bentuk ekspresi, seruan dan partikel-partikel dalam ujaran.
  Jadi perbedaan prinsipil antara code switching dan code mixing begitu. Code mixing terjadi ketika penutur mencampurkan/menyisipkan kata-kata asing (other code) dalam bahasa yang dominan digunakannya, ya termasuk penggunaan istilah asing agar nampak intelek.

Sementara code switching, penutur mengganti bahasa yang digunakannya ke code yang lain (termasuk ragam) karena pertimbangan (1) lawan bicara. (2) penutur sendiri, (3) hadirnya penutur ketiga (misal orang Jawa sama orang Jawa terus datang orang ketiga dari Sumatra maka mereka alih kode ke bahasa Indonesia), (4) menimbulkan rasa humor, atau (5) meningkatkan gengsi.

Hal yang sama dari code switching dan code mixing, ya keduanya lazim terjadi dalam masyarakat multilingual alias dwibahasa dalam menggunakan dua bahasa atau lebih. Perbedaannya alih kode (code switching) terjadi antara bahasa yang digunakan masih memiliki otonomi masing-masing, dilakukan dengan sadar, dan disengaja, karena sebab-sebab tertentu, sementara campur kode (code mixing) terjadi pada suatu kode utama atau kode dasar yang digunakan memiliki fungsi dan otonomi, sedangkan kode yang lain yang terlibat dalam penggunaan bahasa tersebut hanyalah berupa serpihan (pieces) saja, tanpa fungsi dan otonomi sebagai sebuah kode. Unsur bahasa lain hanya disisipkan pada kode utama atau kode dasar. Sebagai contoh penutur menggunakan bahasa Indonesia dalam peristiwa tutur menyisipkan unsur bahasa Minang, sehingga tercipta bahasa Indonesia keminang-minangan.

Thelander membedakan alih kode dan campur kode, apabila dalam suatu peristiwa tutur terjadi peralihan dari satu klausa suatu bahasa ke klausa bahasa lain disebut sebagai alih kode. Tetapi apabila dalam suatu peristiwa tutur klausa atau frasa yang digunakan terdiri atas klausa atau frasa campuran (hybrid clauses/hybrid phrases) dan masing-masing klausa atau frasa itu tidak lagi mendukung fungsinya sendiri maka disebut campur kode. Namun code mixing alias campur kode ini tidak dianjurkan oleh Ivan Lanin loh.

 
Menggunakan bahasa asing memang bagus dan juga terlihat kekinian tapi tetaplah bangga untuk menggunakan dan menjunjung tinggi Bahasa Indonesia ya!

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Introduction